Oleh: Aat Hidayat | 6 April 2010

Epistemologi Hermeneutik Hans-Georg Gadamer: Menyelami Kedalaman Tradisi, Menuai Kelezatan Makna

A. Pendahuluan

Secara etimologis, kata ‘hermeneutik’ atau ‘hermeneutika’ berasal dari bahasa Inggris hermeneutics. Kata hermeneutics sendiri berasal dari bahasa Yunani hermeneuo yang berarti ‘mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata’ atau hermeneuein yang berarti ‘menafsirkan’ dan hermeneia yang berarti ‘penafsiran’. Kata hermeneuo juga bermakna ‘menerjemahkan’ atau ‘bertindak sebagai penafsir’. Dari beberapa makna ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutik adalah ‘usaha untuk beralih dari sesuatu yang relatif gelap kepada sesuatu yang lebih terang’ atau ‘proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti’.[1]

Istilah hermeneutik sering diasosiasikan kepada tokoh mitologis Yunani yang bernama Hermes. Hermes adalah seorang utusan yang bertugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Sosok Hermes digambarkan sebagi seseorang yang mempunyai kaki bersayap. Dalam bahasa Latin, sosok ini lebih dikenal dengan nama Mercurius. Tugas Hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu, Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang digunakan oleh pendengarnya.[2]

Dalam proses menerjemahkan pesan dewa yang dilakukan oleh Hermes tersebut terdapat faktor memahami dan menerangkan sebuah pesan ke dalam medium bahasa. Inilah sesungguhnya rahim historis yang kemudian melahirkan hermeneutik. Akan tetapi, proses hermeneutik tidak sekadar memahami, menerjemahkan, dan menjelaskan sebuah pesan. Di balik proses hermeneutik berjubel elemen-elemen lain yang saling berkait dan berkelindan, seperti praanggapan, tradisi, dialektika, bahasa, dan realitas.

Selain itu, proses hermeneutik pun dari waktu ke waktu semakin berkembang mengikuti alur dialektika manusia yang semakin kompleks. Menurut telaah Fakhruddin Faiz, dalam perkembangannya, hermeneutik memiliki tiga model, yaitu hermeneutik sebagai cara untuk memahami atau hermeneutika teoritis, hermeneutik sebagai cara untuk memahami pemahaman atau hermeneutika filosofis, hermeneutik sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman atau hermeneutika kritis.[3]

Dalam makalah ini, penulis tidak akan mengupas secara tuntas ketiga model hermeneutik tersebut. Penulis hanya akan menelaah epistemologi hermeneutik Hans-Georg Gadamer yang masuk dalam kategori hermeneutika filosofis. Selain karena tuntutan tugas mata kuliah, kajian sederhana ini juga diinspirasi oleh kehebohan karya Gadamer yang berjudul Wahrheit und Methode. Grundziige einer philosophischen Hermeneutik [Kebenaran dan Metode: Sebuah Hermeneutika Filosofis Menurut Garis Besarnya] (1960).[4] Selain berhasil melambungkan nama Gadamer sejajar dengan nama para filsuf sebelumnya, magnum opus ini juga berhasil mendobrak kebuntuan dunia pemahaman yang sempat mandek.

B. Kehidupan Hans-Georg Gadamer

Hans-Georg Gadamer dilahirkan di kota Breslau[5] pada 11 Februari 1900. Ketertarikan Gadamer pada filsafat sempat ditentang oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang profesor kimia di sebuah universitas. Menurut ayah Gadamer, filsafat, kesusastraan, dan ilmu-ilmu humaniora pada umumnya bukan merupakan ilmu pengetahuan yang serius. Akan tetapi, Gadamer tidak mendengar perkataan ayahnya. Ia berpegang teguh pada pilihannya untuk memperdalam filsafat. Tetapi sayang, sang ayah yang tidak merestui pilihan sang anak tidak sempat menyaksikan keberhasilan Gadamer sebagai seorang filsuf, karena sudah meninggal pada tahun 1928.[6]

Petualangan intelektual Gadamer di bidang filsafat dimulai di Universitas Breslau. Kemudian, Gadamer pindah ke Marburg mengikuti kepindahan ayahnya ke kota tersebut. Di kota ini, Gadamer belajar filsafat kepada sejumlah filsuf, di antaranya Paul Natorp, Nicolai Hartmann, dan Rudolf Bultmann. Pada tahun 1922, Gadamer berhasil meraih gelar doktor filsafat dengan sebuah disertasi tentang Plato. Sesudah itu, Gadamer mengikuti kuliah Martin Heidegger di Freiburg. Pada tahun 1927, Heidegger mengusulkan kepada Gadamer untuk membuat Habilitation. Dalam sistem akademis di Jerman, orang yang sudah memiliki gelar doktor filsafat harus membuat tulisan Habilitation sebelum bisa diangkat sebagai dosen di universitas. Di bawah bimbingan Heidegger, akhirnya Gadamer berhasil membuat Habilitation tentang etika dialektis Plato. Akhirnya, Gadamer pun diangkat menjadi dosen pada Universitas Marburg.[7] Selain dipengaruhi oleh beberapa filsuf tersebut, Gadamer juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, G.W.F. Hegel, Søren Kierkegaard, F.D.E. Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, Edmund Husserl, dan Karl Jaspers.[8]

Pada periode nasional-sosialisme Hitler, Gadamer tidak melibatkan diri dalam kancah politik. Walaupun demikian, ketika pada tahun 1933 muncul anjuran kepada para profesor dan tenaga pengajar di Jerman supaya menandatangani pernyataan dukungan terhadap Hitler, Gadamer tidak menolaknya. Akhirnya, pada tahun 1936, Gadamer diangkat menjadi profesor di bidang filsafat. Selanjutnya, pada tahun 1939, Gadamer dipanggil ke Universitas Leipzig di Jerman Timur untuk diangkat sebagai guru besar penuh. Setelah selesai Perang Dunia II (1945), kota Leipzig termasuk wilayah yang ada di bawah pengawasan Uni Soviet dan dimasukkan ke dalam wilayah Jerman Timur yang komunis. Berkat keuletannya bekerja sebagai guru besar, akhirnya Gadamer diangkat sebagai dekan fakultas filsafat, untuk selanjutnya diangkat sebagai rektor universitas.[9]

Akan tetapi, Gadamer tidak dapat bertahan lama memegang jabatan tersebut. Karena tekanan rezim komunis sehingga membuat penelitian dipersulit, Gadamer hijrah ke Jerman Barat. Pada tahun 1948, Gadamer bekerja di Frankfurt am Main. Selanjutnya, pada tahun 1949, Gadamer menggantikan posisi Karl Jaspers di Universitas Heidelberg. Akhirnya, Heidelberg menjadi tempat yang kondusif bagi karier Gadamer sampai memasuki masa pensiun pada tahun 1968. Setelah pensiun, Gadamer sering mengisi ceramah di Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa tempat lain. Walaupun telah memasuki usia lanjut, Gadamer tetap sering mengikuti diskusi-diskusi filosofis dan termasuk salah seorang filsuf yang paling populer di Jerman. Setelah melewati petualangan filosofis yang demikian panjang dan melelahkan, Gadamer akhirnya meninggal di kota Heidelberg pada 13 Maret 2002 di usia 102 tahun.[10]

Wahrheit und Methode. Grundziige einer philosophischen Hermeneutik [Kebenaran dan Metode: Sebuah Hermeneutika Filosofis Menurut Garis Besarnya] (1960) adalah karya utama dan magnum opus Gadamer. Selain itu, masih banyak karya yang dihasilkan dari tangan Gadamer. Di antaranya adalah Platons dialektische Ethik und andere Studien zur platonischen Philosophie [Etika Dialektis dari Plato dan Studi-studi Lain tentang Filsafat Plato] (1968), Hegels Dialektik. Fünf hermeneutische Studien [Dialektika Hegel: Lima Studi Hermeneutis] (1971), Kleine Schriften I, II, III, IV [Karangan-karangan Kecil I, II, III, IV] (1967, 1967, 1972, 1977), Philosophische Lehrjahre. Eine Rückschau [Tahun-tahun Saya Belajar Filsafat: Sebuah Retrospeksi] (1977), dan Hans-Georg Gadamer. Gesammelte Werke (1986-1995) yang merupakan kumpulan karya-karya penting Gadamer yang terdiri atas 10 jilid.[11]

C. Kritik Hans-Georg Gadamer terhadap Sistem Pengetahuan

Secara umum, dunia hermeneutik adalah dunia pemahaman atau penafsiran (verstehen). Dalam perkembangannya, metode pemahaman ini dari generasi ke generasi terus berkembang. Pada tingkat awal, dunia hermeneutik dibuka dengan gagasan Schleiermacher dan Dilthey yang biasa dikenal dengan hermeneutika romantis.[12] Dalam pandangan Schleiermacher dan Dilthey, mengerti atau memahami suatu teks adalah menemukan arti asli teks tersebut atau menampilkan apa yang dimaksud oleh pengarang teks, yakni pikiran, pendapat, visi, perasaan, dan maksud pengarang teks. Oleh karena itu, seorang penafsir harus memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah dan psikologi. Bagi kedua pemikir perintis hermeneutik ini, interpretasi suatu teks merupakan pekerjaan reproduktif. Mencapai arti yang benar dan genuine dari suatu teks adalah kembali kepada apa yang dihayati dan mau dikatakan oleh sang pengarang. Singkatnya, kerja interpretasi adalah kerja rekonstruksi sebuah teks demi mendulang sebuah makna asli.[13]

Selain itu, dalam pemikiran Schleiermacher dan Dilthey, seorang interpretator harus sanggup melepaskan diri dari situasi historisnya. Ia seolah-olah dapat “pindah” ke zaman lain. Artinya, seorang interpretator tidak boleh terikat dengan suatu horison historis yang melingkupinya.[14] Tegasnya, ia keluar dari situasi dan kondisi zamannya untuk kemudian melancong ke situasi dan kondisi penulis teks.

Walaupun Gadamer termasuk pengagum Schleiermacher dan Dilthey, dan pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Schleiermacher dan Dilthey, tetapi Gadamer juga banyak memberikan kritik terhadap pemikiran dua tokoh romantik ini. Pertama, Gadamer keberatan dengan pendapat Schleiermacher dan Dilthey yang menerangkan bahwa hermeneutik bertugas menemukan makna asli sebuah teks. Menurut Gadamer, interpretasi tidak sama dengan mengambil suatu teks lalu mencari makna yang dikehendaki oleh pengarang teks tersebut. Bagi Gadamer, arti suatu teks tetap terbuka dan tidak terbatas pada maksud pengarang teks tersebut.[15] Karena itu, interpretasi tidak bersifat reproduktif belaka, tetapi juga produktif.[16]

Kedua, Gadamer juga mengkritik pendapat hermeneutika romantis tentang waktu, yakni bahwa seorang interpretator harus dapat melepaskan diri dari dimensi waktu yang melingkupinya dan berziarah ke dimensi waktu pengarang teks. Menurut Gadamer, kita sebagai interpretator tidak dapat melepaskan diri dari situasi historis di mana kita berada. Arti suatu teks tidak terbatas pada masa lampau waktu teks tersebut ditulis, tetapi juga mempunyai keterbukaan makna untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Oleh karena itu, memahami dan menginterpretasikan suatu teks merupakan tugas yang tidak akan pernah selesai. Setiap zaman memiliki beban tugas untuk menginterpretasikan suatu teks.[17] Dalam istilah F. Budi Hardiman, makna teks bukanlah makna bagi pengarangnya, melainkan makna bagi kita yang hidup di zaman ini. Maka, menafsirkan adalah proses kreatif.[18]

Ketiga, Gadamer juga mengkritik secara tajam konsep “tradisi’ dan “prasangka” yang digagas para pengusung hermeneutika romantis. Menurut tradisi hermeneutika romantis, dalam menafsirkan suatu teks, prasangka harus dihindarkan jauh-jauh. Menurut para pemikir hermeneutika romantis, prasangka (prejudice) hanya memiliki arti kurang baik dan bertentangan dengan kebenaran. Gadamer menolak pandangan ini. Menurut Gadamer, dalam memahami suatu teks, kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka. Akan tetapi, bukan berarti interpretasi menjadi suatu usaha yang subjektif dan tidak kritis. Oleh karena itu, kita harus membedakan antara prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim, serta antara prasangka yang sah dan prasangka yang tidak sah. Demikian pula, sementara hermeneutika romantis menafikan otoritas suatu tradisi, Gadamer justru mengakuinya. Menurut Gadamer, walaupun kita mengakui otoritas suatu tradisi dan bahkan menjadi bagian dari tradisi, tetapi hal itu tidak akan menghambat pengenalan kita terhadap suatu teks. Sebaliknya, tradisi justru akan membantu kita dalam proses pemahaman.[19]

Selain mengkritisi beberapa konsep hermeneutika romantis yang digagas oleh Schleiermacher dan Dilthey, Gadamer juga mengkritik epistemologi hermeneutika romantis yang cenderung metodologis. Yakni, bahwa ilmu pengetahuan apa pun baru diakui sebagai ilmiah jika memiliki basis empirisme. Dengan pola pikir ini, hermeneutika menjadi bagian dari alam positivisme yang mensyaratkan objektivisme. Oleh karena itu, model hermeneutik yang diusung oleh Schleiermacher dan Dilthey, juga Betti, ini sering juga disebut hermeneutika objektivis.[20]

Pandangan ini dibantah oleh Gadamer. Gadamer berpendapat bahwa upaya objektivistik hanya akan menjadi kesia-siaan belaka bagi siapa pun yang akan menafsirkan sebuah teks. Sebab, jurang tradisi antara pengarang dan penafsir tidak mungkin disatukan lagi. Selain itu, penafsir juga tidak dapat dikosongkan dari pengaruh kulturalnya. Oleh karena itu, menurut Gadamer, upaya objektivisme murni dalam hermeneutik hanya akan menjadi kesia-siaan. Hal yang mungkin dilakukan adalah memproduksi makna yang dikandung oleh teks sehingga teks tersebut akan menjadi lebih kaya makna. Gadamer menegaskan bahwa jurang waktu dan jurang tradisi antara pengarang dan penafsir tidak mungkin disatukan. Menurutnya, yang terpenting adalah dialektika atau dialog yang produktif antara masa lalu dan masa kini.[21]

D. Sistem dan Metode Ilmu yang Ditawarkan oleh Hans-Georg Gadamer

Dalam pandangan Gadamer, pemahaman manusia senantiasa merupakan peristiwa historis, dialektik, dan linguistik.[22] Dengan demikian, dalam sistem dan metode pengetahuan yang digagas oleh Gadamer, kebenaran diperoleh melalui proses dialektika. Tujuan dari proses dialektika adalah menggelitik realitas yang dijumpai, dalam hal ini teks, supaya mengungkapkan dirinya. Oleh karena itu, dalam pandangan Gadamer, tugas hermeneutik adalah mengeluarkan teks dari alienasinya, dan mengembalikannya ke dalam dialog yang riil dengan kehidupan manusia di masa kini.[23]

Menurut Gadamer, tujuan hermeneutik bukanlah menerapkan berbagai macam aturan baku dan kaku untuk meraih pemahaman yang “benar objektif”, tetapi untuk mendapatkan pemahaman seluas mungkin. Dengan demikian, kunci untuk memahami bukan dengan cara memanipulasi atau menguasai, tetapi dengan partisipasi dan keterbukaan; bukan dengan pengetahuan, tetapi dengan pengalaman; dan bukan dengan metodologi, tetapi dengan dialektika.[24] Dalam proses dialektika, teks dan penafsir menjalani suatu keterbukaan satu sama lain sehingga keduanya saling memberi dan menerima yang kemudian memungkinkan bagi lahirnya pemahaman yang baru.[25]

Dalam membangun sistem pengetahuannya ini, Gadamer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Hegel. Oleh karena itu, dialektika dan spekulativitas dalam sistem pengetahuan yang dibangun oleh Gadamer merujuk pada pemikiran Hegel.[26]

Dalam proses pemahaman dan interpretasi dengan sistem dialektika ini, Gadamer meniscayakan empat faktor yang tidak boleh diabaikan.[27] Pertama, bildung atau pembentukan jalan pikiran. Dalam kaitannya dengan proses pemahaman atau penafsiran, jika seseorang membaca sebuah teks, maka seluruh pengalaman yang dimiliki oleh orang tersebut akan ikut berperan. Dengan demikian, penafsiran dua orang yang memiliki latar belakang, kebudayaan, usia, dan tingkat pendidikan yang berbeda tidak akan sama. Dalam proses penafsiran, bildung sangat penting. Sebab, tanpa bildung, orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. Singkatnya, orang tidak dapat menginterpretasi ilmu-ilmu tersebut dengan caranya sendiri.

Kedua, sensus communis atau pertimbangan praktis yang baik atau pandangan yang mendasari komunitas. Istilah ini merujuk pada aspek-aspek sosial atau pergaulan sosial. Para filsuf zaman dulu menyebutnya dengan “kebijaksanaan”. Istilah mudahnya adalah “suara hati”. Misalnya, sejarawan sangat memerlukan sensus communis untuk memahami latar belakang yang mendasari pola sikap manusia. Ketiga, pertimbangan, yaitu menggolongkan hal-hal yang khusus atas dasar pandangan tentang yang universal. Pertimbangan merupakan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang harus dilakukan. Faktor ini memang sulit untuk dipelajari dan diajarkan. Faktor ini hanya dapat dilakukan sesuai dengan kasus-kasus yang ada. Faktor ini menjadi pembeda antara orang pintar dan orang bodoh. Orang bodoh yang miskin pertimbangan tidak dapat menghimpun kembali apa yang telah dipelajari dan diketahuinya sehingga ia tidak dapat mempergunakan hal-hal tersebut dengan benar. Keempat, taste atau selera, yaitu sikap subjektif yang berhubungan dengan macam-macam rasa atau keseimbangan antara insting pancaindra dan kebebasan intelektual. Gadamer menyamakan selera dengan rasa. Dalam operasionalnya, selera tidak memakai pengetahuan akali. Jika selera menunjukkan reaksi negatif atas sesuatu, kita tidak tahu penyebabnya.

E. Konstruksi Epistemologis Pemikiran Hans-Georg Gadamer

1. Sumber dan Hakikat Pengetahuan

Menurut Gadamer, sejarah atau sosialitas masyarakat merupakan medium berlangsungnya semua sistem pengetahuan. Sejarah sendiri merupakan sebuah perjalanan tradisi yang ingin membangun visi dan horison kehidupan di masa depan.[28] Di dalam sejarah, setiap orang mengembangkan cara-cara memahami satu sama lain. Mereka mengkombinasikan berbagai makna menjadi satu sistem makna yang general. Dengan demikian, bahasa suatu masyarakat (native language) tidak hanya sebagai simbol yang merepresentasi diri (self), tetapi juga karakter (nature) dan pemikiran atau pandangan masyarakat (worldview, thought, weltanschaung). Bahasa memiliki kekuatan untuk mengungkap dan juga menyembunyikan suatu makna yang dimiliki atau dipahami secara eksklusif oleh komunitas setempat. Oleh karena itu, orang lain yang hendak memahami bahasa atau pemikiran suatu masyarakat harus masuk ke dalam sejarah dan cara membahasa mereka (baca: tradisi mereka).[29]

Singkatnya, kerangka pemikiran (worldview) dan pengetahuan (self-knowledge) manusia dibentuk dan mewujud dalam seluruh proses sejarah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tugas utama hermeneutik adalah memahami teks (baca: sejarah dan tradisi)[30] dan hakikat pengetahuan dalam tradisi hermeneutik filosofis Gadamer adalah pemahaman atau penafsiran (verstehen) terhadap teks tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi sang penafsir.[31]

2. Alat Pengetahuan

Karena bahasa merupakan the concrete expression of ‘form of life’ or ‘tradition’ (ekspresi kongkret dari kehidupan atau tradisi), maka bahasa menjadi titik sentral dalam proses pemahaman (understanding/verstehen).[32] Menurut Gadamer, “mengerti” tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bahasa. Karena “mengerti” bukan saja dilakukan dalam memahami teks-teks masa lampau, tetapi merupakan sikap paling fundamental dalam eksistensi manusia, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa mempunyai relevansi ontologis. “Mengerti” sama dengan mengadakan percakapan atau dialog dengan yang ada, suatu percakapan di mana sungguh-sungguh terjadi sesuatu.[33] Gadamer menegaskan bahwa masalah hermeneutik bukan penguasaan yang benar terhadap bahasa, tetapi pemahaman yang tepat terhadap sesuatu yang terjadi melalui media bahasa.[34] Kaitannya dengan proses pemahaman, Gadamer menegaskan hanya melalui bahasalah wujud (baca: makna) bisa disingkapkan.[35]

Berbicara tentang bahasa, Gadamer sering menekankan bahwa bahasa tidak terutama mengekspresikan pemikiran, tetapi mengekspresikan objek itu sendiri. Menurutnya, tidak ada perkataan yang dapat mengungkapkan suatu objek secara tuntas. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan bahasa, tetapi karena keberhinggaan (baca: keluasan) subjek manusia.[36] Selanjutnya, Gadamer juga menjelaskan bahwa bahasa lebih dari sekadar suatu sistem tanda. Sebab, objek dan kata tidak dapat dipisahkan. Di antara keduanya terdapat kesatuan yang begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan-akan melekat pada benda. Demikian pula, bahasa dan pemikiran pun membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.[37]

3. Teori dan Metode Memperoleh Pengetahuan

Berikut ini adalah teori dan metode Gadamer dalam memperoleh pengetahuan, dalam hal ini meraih pemahaman atas suatu teks atau tradisi.[38]

a. Teori “Kesadaran Keterpengaruhan oleh Sejarah” (Historically Effected Consciousness)

Menurut teori ini, pemahaman seorang penafsir ternyata dipengaruhi oleh situasi hermeneutik tertentu yang melingkupinya, baik itu berupa tradisi, kultur, ataupun pengalaman hidup. Oleh karena itu, pada saat menafsirkan sebuah teks, seorang penafsir harus sadar bahwa dia berada pada posisi tertentu yang bisa mempengaruhi pemahamannya terhadap sebuah teks yang sedang ditafsirkannya. Lebih lanjut Gadamer mengatakan, seseorang harus belajar memahami dan mengenali bahwa dalam setiap pemahaman, baik dia sadar atau tidak, pengaruh dari affective history (“sejarah yang mempengaruhi seseorang”) sangat mengambil peran. Sebagaimana diakui oleh Gadamer, mengatasi problem keterpengaruhan ini memang tidaklah mudah. Pesan dari teori ini adalah bahwa seorang penafsir harus mampu mengatasi subjektivitasnya ketika dia menafsirkan sebuah teks.[39]

b. Teori “Prapemahaman” (Pre-Understanding)

Keterpengaruhan oleh situasi hermeneutik atau affective history tertentu membentuk pada diri seorang penafsir apa yang disebut Gadamer dengan istilah pre-understanding atau “prapemahaman” (baca: praanggapan) terhadap teks yang ditafsirkan. Prapemahaman yang merupakan posisi awal penafsir memang pasti dan harus ada ketika ia membaca teks. Gadamer menyatakan bahwa dalam proses pemahaman, prapemahaman selalu memainkan peran. Dalam praktiknya, prapemahaman ini diwarnai oleh tradisi yang berpengaruh, di mana seorang penafsir berada, dan juga diwarnai oleh perkiraan awal (prejudice) yang terbentuk dalam tradisi tersebut.[40]

Keharusan adanya prapemahaman tersebut, menurut teori ini, dimaksudkan agar seorang penafsir mampu mendialogkannya dengan isi teks yang ditafsirkan. Tanpa prapemahaman, seseorang tidak akan berhasil memahami teks dengan baik. Bahkan, Oliver R. Scholz menyatakan bahwa prapemahaman yang disebutnya dengan istilah “asumsi atau dugaan awal” merupakan “sarana yang tak terelakkan bagi pemahaman yang benar”. Meskipun demikian, menurut Gadamer, prapemahaman harus terbuka untuk dikritisi, direhabilitasi, dan dikoreksi oleh penafsir itu sendiri ketika dia sadar atau mengetahui bahwa prapemahamannya itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh teks yang ditafsirkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap pesan teks. Hasil dari rehabilitasi atau koreksi terhadap prapemahaman ini disebutnya dengan istilah “kesempurnaan prapemahaman”.[41]

c. Teori “Penggabungan/Asimilasi Horison” (Fusion of Horizons) dan Teori “Lingkaran Hermeneutik” (Hermeneutical Circle)

Dalam menafsirkan teks, seseorang harus selalu berusaha memperbarui prapemahamannya. Hal ini berkaitan erat dengan teori “penggabungan atau asimilasi horison” (fusion of horizons). Menurut teori ini, proses penafsiran seseorang dipengaruhi oleh dua horison, yakni cakrawala (pengetahuan) atau horison yang ada di dalam teks dan cakrawala (pemahaman) atau horison pembaca. Kedua horison ini selalu hadir dalam setiap proses pemahaman dan penafsiran. Seorang pembaca teks akan memulai pemahaman dengan cakrawala hermeneutiknya. Namun, dia juga memperhatikan bahwa teks yang dia baca mempunyai horisonnya sendiri yang mungkin berbeda dengan horison yang dimiliki pembaca. Dua bentuk horison ini, menurut Gadamer, harus dikomunikasikan, sehingga ketegangan di antara keduanya dapat diatasi. Oleh karena itu, ketika seseorang membaca teks yang muncul pada masa lalu, maka dia harus memperhatikan horison historis di mana teks tersebut muncul (baca: diungkapkan atau ditulis).[42]

Seorang pembaca teks harus memiliki keterbukaan untuk mengakui adanya horison lain, yakni horison teks yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan horison pembaca. Dalam hal ini, Gadamer menegaskan, “Saya harus membiarkan teks masa lalu berlaku (memberikan informasi tentang sesuatu). Hal ini tidak semata-mata berarti sebuah pengakuan terhadap ‘keberbedaan’ masa lalu, tetapi juga bahwa teks masa lalu mempunyai sesuatu yang harus dikatakan kepadaku.” Intinya, memahami sebuah teks berarti membiarkan teks yang dimaksud berbicara.[43]

Interaksi di antara dua horison tersebut dinamakan “lingkaran hermeneutik” (hermeneutical circle). Menurut Gadamer, horison pembaca hanya berperan sebagai titik berpijak seseorang dalam memahami teks. Titik pijak pembaca ini hanya merupakan sebuah “pendapat” atau “kemungkinan” bahwa teks berbicara tentang sesuatu. Titik pijak ini tidak boleh dibiarkan memaksa pembaca agar teks harus berbicara sesuai dengan titik pijaknya. Sebaliknya, titik pijak ini justru harus bisa membantu memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Dalam proses ini terjadi pertemuan antara subjektivitas pembaca dan objektivitas teks, di mana makna objektif teks harus lebih diutamakan oleh pembaca atau penafsir teks.[44]

d. Teori “Penerapan/Aplikasi” (Application)

Makna objektif teks harus mendapat perhatian dalam proses pemahaman dan penafsiran. Ketika makna objektif telah dipahami, kemudian apa yang harus dilakukan oleh pembaca atau penafsir teks yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Di sisi lain, situasi ketika munculnya teks tersebut dan masa ketika seorang penafsir hidup telah jauh berbeda. Menurut Gadamer, ketika seseorang membaca kitab suci, maka selain proses memahami dan menafsirkan, ada satu hal lagi yang dituntut, yakni “penerapan” (application) pesan-pesan atau ajaran-ajaran pada masa ketika teks kitab suci itu ditafsirkan.[45] Pertanyaannya adalah: apakah makna objektif teks tersebut harus terus dipertahankan dan diaplikasikan pada masa ketika seorang penafsir hidup? Menanggapi pertanyaan ini, Gadamer berpendapat bahwa pesan yang harus diaplikasikan pada masa penafsiran bukan makna literal teks, tetapi “makna yang berarti” (meaningfull sense) atau pesan yang lebih berarti daripada sekadar makna literal.[46]

Intinya, dalam membaca dan mamahami teks-teks historis berlaku proses hermeneutis yang dalam istilah Gadamer disebut effective history.[47] Konsep ini dimaksudkan untuk melihat tiga kerangka waktu yang mengitari wilayah teks-teks historis. Pertama, masa lampau, di mana sebuah teks dilahirkan atau dipublikasikan. Di sini, makna teks bukan hanya milik pengarang, tetapi juga milik setiap orang yang berusaha membaca dan memahaminya. Kedua, masa kini, di mana penafsir datang dengan membawa sejumlah prasangka atau praanggapan. Dengan prasangka ini, penafsir akan berdialog dengan masa lalu sehingga melahirkan makna baru yang sesuai dengan kondisi penafsir. Ketiga, masa depan, di mana di dalamnya terdapat nuansa baru yang produktif.[48]

4. Teori Kebenaran Pengetahuan

Dalam Truth and Method, Gadamer berusaha melanjutkan dan menyempurnakan gagasan gurunya, Martin Heidegger, tentang keterkaitan antara keberadaan manusia dan kemungkinan pemahaman yang bisa dilakukan. Dalam pandangan Heidegger, yang kemudian diikuti dan disempurnakan oleh Gadamer, hermeneutik adalah penafsiran terhadap esensi (being) yang dalam kenyataannya selalu tampil dalam eksistensi. Dengan demikian, suatu kebenaran tidak lagi ditandai oleh adanya kesesuaian (koherensi) antara konsep teoritis dan realitas objektif (sebagaimana dilakukan oleh kalangan positivisme dengan dalih mencari objektivitas), tetapi oleh tersingkapnya esensi atau hakikat sesuatu. Dan, satu-satunya wahana bagi penampakan being tersebut adalah eksistensi manusia.[49]

5. Pengujian Kebenaran Pengetahuan

Di atas telah dinyatakan bahwa dalam tradisi hermeneutika filosofis yang digagas oleh Heidegger dan Gadamer, suatu kebenaran tidak lagi ditandai oleh adanya kesesuaian (koherensi) antara konsep teoritis dan realitas objektif, tetapi oleh tersingkapnya esensi atau hakikat sesuatu. Dengan demikian, dalam tradisi hermeneutika filosofis tidak ada konsep pengujian kebenaran lewat media verifikasi dan falsifikasi sebagaimana lazim dilakukan dalam tradisi filsafat positivisme abad pencerahan. Sebab, studi filosofis dalam hermeneutika ala Gadamer lebih menekankan pada masalah interpretasi atau pemahaman (verstehen) daripada masalah kepastian (evidence) dan masalah objektivitas kebenaran.[50]

F. Relevansi dan Implikasi Pemikiran Hans-Georg Gadamer dalam Pendidikan

Paling tidak ada tiga sumbangan penting pemikiran Gadamer bagi dunia pendidikan. Pertama, keterbukaan terhadap yang lain. Hal ini bisa ditengarai dari konsep pemahaman Gadamer yang meniscayakan meleburnya latar belakang penafsir dalam dunia makna sehingga melahirkan pluralitas penafsiran. Di sinilah pentingnya keterbukaan terhadap yang lain dalam bingkai saling menghormati dan saling menghargai.

Kedua, tidak fanatik terhadap paham atau mazhab yang dianut. Hal ini bisa dilihat dari sikap Gadamer yang tidak pernah melegitimasi sebuah penafsiran sebagai sesuatu yang benar. Sebab, menurut Gadamer, setiap pemahaman dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sang penafsir sehingga penafsiran dan pemahaman akan sebuah teks menjadi sangat beragam.

Ketiga, semangat pendidikan untuk perubahan. Hal ini terinspirasi oleh proses pemahaman dan pembacaan terhadap teks yang menurut Gadamer tidak akan pernah berhenti. Proses ini meniscayakan sebuah pembaruan yang terus-menerus terhadap pengetahuan. Dengan semangat ini, seharusnya pendidikan bukan untuk mempertahankan status quo, tetapi untuk mencapai kemajuan di segala bidang.

G. Penutup

Gagasan Gadamer tentang hermeneutika filosofis merupakan sebuah gebrakan dalam lapangan hermeneutik. Lewat karya monumentalnya Truth and Method yang lahir pada tahun 1960, Gadamer berhasil mentahbiskan diri sebagai seorang pemikir terkemuka dalam filsafat kontemporer. Dengan progresivitas pemikiran hermeneutik ala Gadamer, impian umat Islam untuk menggapai kejayaan peradaban akan segera terwujud. Sebab, imbas pemikiran Gadamer akan memberikan efek besar terhadap perubahan tradisi Islam yang selama ini terasa sangat kaku dan beku. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini perlu upaya “membumikan” pemikiran Gadamer di kalangan umat Islam yang tengah tertidur lelap. []

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia, 2002.

Chariri, Anis. “Philosophy of Social Science: Interpretative Sociology”, dalam http://www.anischariri.multiply.com, 12 November 2009.

Faiz, Fakhruddin. Hermeneutika Al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005.

Gadamer, Hans-Georg. Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

“Hans-Georg Gadamer”, dalam http://www.id.wikipedia.org, 12 November 2009.

Hardiman, F. Budi. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina, 1996.

Maspaitella, Elifas Tomix. “Hermeneutika Gadamer dalam Konteks Membahasa Masyarakat”, dalam http://www.kutikata.blogspot.com, 12 November 2009.

Mulyono, Edi. “Hermeneutika Linguistik-Dialektis Hans-Georg Gadamer”, dalam Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin (ed.), Hermeneutika Transendental: dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies. Yogyakarta: IRCiSoD, 2003.

Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar, 2005.

Palmer, Richard E. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, terj. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Ponsa. “Relevansi Konsep Gadamer tentang The Experience of History untuk Memaknai Teks Kitab Suci yang Opresif”, dalam http://www.ponsa.wordpress.com, 12 November 2009.

Sumaryono, E. Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Syamsuddin, Syahiron. “Integrasi Hermeneutika Hans-Georg Gadamer ke dalam Ilmu Tafsir: Sebuah Proyek Pengembangan Metode Pembacaan Al-Qur’an pada Masa Kontemporer”, Makalah pada Annual Conference Islamic Studies (ACIS) yang dilaksanakan oleh Ditpertais Departeman Agama RI, Bandung, 26-30 November 2006.


[1]F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 37. Bandingkan dengan E. Sumaryono, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1999), hlm. 23-24.

 

[2]Ibid.

[3]Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005), hlm. 8-11.

[4]Edisi bahasa Inggris-nya berjudul Truth and Method (New York: The Seabury Press, 1965). Adapun edisi bahasa Indonesia-nya berjudul Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).

[5]Menurut sumber lain, Gadamer dilahirkan di kota Marburg. Lihat “Hans-Georg Gadamer”, dalam http://www.id.wikipedia.org, 12 November 2009.

[6]K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 254.

[7]Ibid., hlm. 254-255.

[8]“Hans-Georg Gadamer”, dalam http://www.id.wikipedia.org, 12 November 2009.

[9]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 255-256. Bandingkan dengan “Hans-Georg Gadamer”, dalam http://www.id.wikipedia.org, 12 November 2009.

[10]Ibid. Bandingkan dengan K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 255-256.

[11]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 256-257.

[12]Istilah ini mengacu pada zaman romantik atau zaman pencerahan.

[13]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 261.

[14]Ibid., hlm. 262.

[15]Paul Ricoeur menyebutnya dengan istilah otonomi teks. Dalam hal ini, Ricoeur terkenal dengan jargon “Matinya sang penulis”. Lihat E. Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 109.

[16]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 263.

[17]Ibid. Tentang hal ini, Gadamer memiliki konsep penerapan (application). Istilah mudahnya adalah kontekstualisasi. Artinya, setiap generasi punya tugas untuk mengkontekstualisasikan (memahami dan menerapkan) makna sebuah teks bagi masa dan zamannya masing-masing. Bandingkan dengan F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas, hlm. 48-49.

[18]Ibid., hlm. 44.

[19]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 264-265.

[20]Edi Mulyono, “Hermeneutika Linguistik-Dialektis Hans-Georg Gadamer”, dalam Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin (ed.), Hermeneutika Transendental: dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 134-135.

[21]Ibid., hlm. 135-136.

[22]Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, terj. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 255.

[23]Ponsa, “Relevansi Konsep Gadamer tentang The Experience of History untuk Memaknai Teks Kitab Suci yang Opresif”, dalam http://www.ponsa.wordpress.com, 12 November 2009.

[24]Richard E. Palmer, Hermeneutika, hlm. 255.

[25]Edi Mulyono, “Hermeneutika Linguistik-Dialektis”, hlm. 142.

[26]Richard E. Palmer, Hermeneutika, hlm. 257.

[27]E. Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 71-77 dan 84. Bandingkan dengan Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, 2005), hlm. 142-143. Penjelasan gamblang Gadamer terhadap keempat faktor ini dapat dilihat dalam Hans-Georg Gadamer, Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 10-48.

[28]Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 21-22.

[29]Elifas Tomix Maspaitella, “Hermeneutika Gadamer dalam Konteks Membahasa Masyarakat”, dalam http://www.kutikata.blogspot.com, 12 November 2009.

[30]E. Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 80.

[31]Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hlm. 141.

[32]Anis Chariri, “Philosophy of Social Science: Interpretative Sociology”, dalam http://www.anischariri.multiply.com, 12 November 2009, hlm. 25.

[33]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 265.

[34]Hans-Georg Gadamer, Kebenaran dan Metode, hlm. 467.

[35]Edi Mulyono, “Hermeneutika Linguistik-Dialektis”, hlm. 140.

[36]K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 265-266.

[37]Ibid., hlm. 266.

[38]Syahiron Syamsuddin, “Integrasi Hermeneutika Hans-Georg Gadamer ke dalam Ilmu Tafsir: Sebuah Proyek Pengembangan Metode Pembacaan Al-Qur’an pada Masa Kontemporer”, Makalah pada Annual Conference Islamic Studies (ACIS) yang dilaksanakan oleh Ditpertais Departeman Agama RI, Bandung, 26-30 November 2006, hlm. 5-9.

[39]Ibid., hlm. 6-7.

[40]Ibid., hlm. 7.

[41]Ibid.

[42]Ibid., hlm. 8.

[43]Ibid.

[44]Ibid., hlm. 8-9.

[45]Istilah mudahnya adalah kontekstualisasi.

[46]Ibid., hlm. 9.

[47]Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, hlm. 22. Bandingkan dengan Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hlm. 143.

[48]Ibid.

[49]Ibid., hlm. 140-141. Bandingkan dengan Edi Mulyono, “Hermeneutika Linguistik-Dialektis”, hlm. 137.

[50]Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hlm. 141.


Responses

  1. mantappp… teruskan belajar wordpress nya ya.. makalahnya dipecah jadi 5-6 tulisan/postingan dgn judul yg berbeda, lumayan tuh biar cepat diindex google dan blog nya jadi tambah ramai dgn tulisan-tulisan.. sayang kan kalo satu makalah dijadikan satu halaman sndiri.. mending dipisah-pisah biar yg lain gak ngira ini satu makalah utuh.

    –> Aat menjawab: Ok Pak. Makasih atas ilmunya. Semoga barokah dunia akhirat. Amin

  2. Mohon ijin saya ngopy

  3. [...] [2] http://aathidayat.wordpress.com/2010/04/06/hermeneutika-gadamer/ [...]

  4. Wah terimakasih ya, postingannya membantu sekali plus lengkap dengan daftar pustaka :)

  5. assalamu alaikum…ijin ngutip tulisannya mas..buat tugas kuliah..matur nuwun, salam dari bumi pelajar

  6. Terima kasih atas materinya. Semoga mendapat imbalan yg setimpal. Dimudahkan rejekinya, diberi ketabahan, kesehatan, keberkahan dsb, dari-Nya. Amiin.

  7. Pada mulanya ‘hermenetika’ adalah kajian ilmiah tentang cara melihat,memahami atau menafsirkan segala suatu berdasar sudut pandang (manusia) yang melihatnya dari berbagai aspek : bahasa,sejarah,budaya dlsb. (yang berhubungan dengan ruang-waktu manusia).sepanjang gagasan demikian digunakan diluar bahasan masalah agama mungkin tidak perlu terlalu dikawatirkan,tapi bila sudah mulai ‘mengetuk pintu’ agama maka kita harus hati hati sebab kita akan mendapatkan ‘tamu’ yang kelak ternyata terbukti menimbulkan banyak masalah.dan memang ‘tamu’ yang datang ternyata berbeda beda serta menawarkan konsep yang berbeda beda.
    ‘Hermenetika’ adalah semacam kacamata sudut pandang manusia yang biasa digunakan untuk ‘menyaring’ penafsiran manusia terhadap kitab suci agar hasilnya bersesuaian dengan kacamata sudut pandang sang penggagas,yang biasanya mengacu pada prinsip agar ‘bersesuaian dengan parameter ke kini an,misal bersesuaian dengan prinsip kacamata sudut pandang ‘modernisme’ atau yang lainnya. dengan kata lain secara halus sang penggagas sebenarnya ingin mendoktrin atau mengendalikan cara berfikir manusia agar cara pemahaman manusia terhadap agama mengikuti bingkai pemahamannya. Sang penggagas (hermenetika) juga menerapkan beragam syarat ‘ilmiah’ yang ketat sebelum orang mendefinisikan agama sebagai ‘kebenaran’ yang diyakini secara mutlak,sang penggagas (bisa saja) ingin agar manusia ‘meragukan apa yang selama ini diyakininya’ karena ‘kondisi dan keadaan dianggap sudah berbeda dengan saat kitab suci diturunkan’,maka karena itu sang penggagas menyiapkan ‘cara pemahaman baru’.
    Dengan kata lain bila kita menggunakan kacamata penggagas hermenetika dalam cara menafsirkan atau mendeskripsikan agama maka bisa jadi kita sebenarnya (sadar atau tidak ) sedang digiring (atau di doktrin ?) untuk memahami sesuatu berdasar kacamata sudut pandang penggagas,sehingga bisa jadi kita tidak lagi bebas menggunakan hati nurani dan akal fikiran kita dalam menafsirkan kebenaran agama.
    Tapi jangan lupa bahwa konsep kebenaran mutlak (yang menjadi konstruksi agama) adalah konsep kebenaran yang bersifat hakiki dan abadi tak bisa diubah oleh manusia,dan konsep demikian hanya bisa dibaca oleh orang yang memiliki hati nurani (ruhani) dan akal yang jernih-kuat dan cerdas.jadi yang tak bisa dikutak katik atau diubah penggagas hermenetika adalah essensi.
    Dan penafsiran terhadap kitab suci sebenarnya lebih bergantung pada niat hati manusia,bila niat untuk tunduk dan patuh pada Tuhan tentu,hasilnya pasti akan lain dengan bila menafsirkan kitab suci dengan tujuan hanya untuk berwacana,beropini atau berdebat semata.
    Tanpa kacamata baca ala ‘hermenetika’ sekalipun sebenarnya manusia secara alami sudah diberi atau dibekali Tuhan hati dan akal sebagai alat untuk menangkap-memahami serta mengelola kitab suci,bila melihat dengan kacamata ‘nurani’ dan akal yang bersih (murni tidak didoktrin oleh manusia) pasti beda dengan bila menggunakan doktrin ‘saringan’ yang dibuat oleh manusia.
    Hati nurani yang tulus menangkap maksud-pesan Tuhan secara tepat-autentik sebagaimana aslinya seperti pesawat televisi menangkap siaran stasion pemancar,karena untuk maksud itulah Tuhan menciptakan hati. (inilah yang sering ‘dipermasalahkan penggagas hermenetik,mereka seperti tidak memahami dan tidak menghayati peran hati,karena sebagian penggagas terlalu sering bermain di wilayah ‘otak’ dalam mengkaji agama).

    Agama hasil saringan kacamata hermenetika seringkali merupakan ‘agama’ yang sudah tidak otentik lagi karena sudah diramu,dikemas,dibingkai oleh berbagai keinginan manusia yang beraneka ragam diantaranya untuk ‘mengendalikan’ agama,atau menjdi tidak murni karena sudah tercampur dengan berbagai bentuk pemikiran bebas manusia,yang berasal dari niat atau motivasi yang beragam.
    ’agama’ hasil saringan penggagas hermenetika bisa saja menjadi seperti ibarat buah yang sudah kehilangan saripatinya sehingga rasanya menjadi hambar,itu bisa terjadi bila dicampur dengan keinginan keinginan manusiawi yang bukan ingin tulus menyembah Tuhan.
    Agama akan terjaga keasliannya bila ditafsir oleh orang orang yang tulus-ikhlas yang menafsirkan agama semata karena ingin menegakkan agama Ilahi dimuka bumi,tapi bayangkan bila ditafsir oleh orang yang ingin agama ditafsir dan dikendalikan oleh ‘pemikiran bebas manusia’ (?)
    Memang bisa beda jauh hasil kajian agama bila dilihat dengan kacamata agama (yang telah disediakan dalam kitab suci) dengan kacamata penggagas hermenetik,missal : bila dengan kacamata agama kita melihat dan memahami agama sebagai konsep kebenaran mutlak maka bila kita melihatnya dengan kacamata hermenetika bisa saja kebenaran agama akan nampak ‘relatif’ (jadi terbalik 180 derajat!). itu adalah suatu contoh nyata bagaimana pembalik an makna mudah terjadi hanya karena kita menggunakan kacamata yang berbeda.
    Nah berarti pada garis besarnya ada dua ‘kacamata’ untuk melihat dan memahami agama,pertama adalah kacamata Ilahi sebagaimana yang telah diajarkan oleh kitab suci,dan kedua : ‘kacamata isme’ atau kacamata sudut pandang buatan manusia,yang salah satunya adalah kacamata penggagas hermenetika.
    Kesimpulannya : bukan berarti semua yang lahir dari wacana hermenetika (yang membahas masalah agama sebagai keliru) karena hal itu kembali kepada niat si penggagas.sebab apapun yang lahir dari pemikiran manusia harus selalu kita saring (karena selalu terbagi kepada benar dan salah),tulisan ini setidaknya mengantisipasi kesalahan yang telah atau bisa atau mungkin terjadi silahkan di paralelkan dengan kenyataannya…..jadi bukan menghakimi secara saklek,hitam-putih tapi mengajak siapapun untuk berhati hati dan waspada dengan ‘kacamata sudut pandang manusia’.
    Jadi bila kita ingin menafsir serta memahami agama-kitab suci agar tidak jatuh kepada ‘kesalah fahaman’ menurut penggagas hermenetik,jalan terbaik bagi kita adalah harus menguatkan niat : untuk apa kita berusaha memahaminya dan kedua membersihkan hati dari niatan niatan yang negative, dengan kata lain kita harus membersihkan hati kita se bening mungkin,karena hati lah (bukan otak) yang kelak akan menangkap essensi agama.
    Sebagaimana sebuah produk elektronik hanya bisa difahami hanya bila kita membaca buku panduan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya,begitu pula kitab suci hanya bisa difahami (secara utuh) hanya bila kita menggunakan kacamata sudut pandang Tuhan serta panduan cara memahaminya yang ada dan diajarkan dalam kitab suci tersebut.dan mohon pertimbangkan hal ini sebelum kita mencoba melihat agama dengan berbagai kacamata produk penggagas hermenetika (termasuk juga berbagai kacamata buatan manusia seperti isme isme tentunya).
    Kitab suci mengajarkan bahwa kita harus menggunakan hati nurani dan akal (yang sehat) dalam membaca dan memahami kitab suci,dan manusia tidaklah bisa menggunakan keduanya bila fikirannya dikendalikan atau didoktrin oleh pandangan pandangan tertentu yang berasal dari kacamata sudut pandang manusia yang melihat dan memperlakukan agama bukan dengan tujuan sebagaimana yang diinginkan oleh Tuhan.jadi apakah memilih bebas menggunakan hati nurani dan akal atau memilih untuk didikte atau didoktrin oleh kacamata sudut pandang manusia tertentu yang memberi banyak ‘syarat’ bagi sesuatu untuk disebut ‘kebenaran’ menurut versi mereka,sedang hati nurani dan akal itu tembus ruang dan waktu artinya tidak mengenal kebenaran yang dibatasi oleh : ruang-waktu,sejarah, budaya,bahasa dlsb.yang banyak dipermasalahkan oleh penggagas hermenetika.
    Kitab suci tidak memberi syarat yang rumit dan pelik untuk memahami agama,tidak mengajarkan harus mengkaji atau selalu mengaitkannya dengan factor bahasa,sejarah,budaya,ruang-waktu dlsb.sebab pada dasarnya sebenarnya sudah memadai bila menangkap kebenaran agama dengan hati yang bersih dan akal yang sehat (cara berfikir yang tertata-sistematis tidak spekulatif).sehingga sekali lagi faktor yang terpenting dalam membaca dan memahami agama sebenarnya adalah faktor ‘jiwa’ (hati dan akal) sebagai alat baca,sedang pengetahuan yang biasa digumuli oleh penggagas hermenetik (sepanjang benar) sebenarnya hanya alat bantu atau pelengkap yang tidak menjadi syarat utama bagi pemahaman agama.sebaliknya bila pemikiran penggagas hermenetik bertentangan dengan essensi agama maka yang harus dibuang tentu pendapat atau pandangan manusiawi.
    Sebab faktor : bahasa,sejarah,budaya,ruang-waktu dlsb.dalam agama semua itu hanya perkakas – alat atau ‘kulit luar’ atau masalah ‘teknis’ yang seharusnya jadi faktor pelengkap belaka bukan essensi yang menjadi pokok atau tujuan,sebab pemahaman agama itu bermuara pada pemahaman tentang hal hal yang bersifat essensial bukan pada hal hal yang serba bersifat ‘teknis’.coba fikirkan bila dalam kepala menumpuk sekumpulan ilmu yang membahas agama sampai kepada hal hal yang bersifat teknis yang bersangkutan dengan agama tapi dalam hati kosong dari pemahaman serta penghayatan terhadap essensi agama (?)
    Saya memberi contoh : dewasa ini banyak intelektual yang dalam kepalanya menumpuk ‘ilmu’ tentang agama atau seputar masalah keagamaan,tapi ia antipati terhadap klaim kebenaran mutlak agama Ilahi atau cenderung berpandangan pluralistik terhadap kebenaran agama,padahal konsep kebenaran mutlak adalah essensi agama Ilahi yang paling utama sehingga bila essensi itu dibuang maka yang dipegang oleh seseorang sebenarnya adalah tinggal ‘kulit’nya belaka(yang sudah tanpa isi).(ini sesuai dengan sabda Rasul : bahwa diakhir zaman tiadalah yang tinggal dari agama kecuali kulit luarnya belaka).

  8. terima kasih, sangat bagus dan bermanfaat untuk tambah ilmu dan wawasan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.357 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: