A.    Pengantar dan Deskripsi Materi Hadis di Madrasah Tsanawiyah

Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah terdiri atas empat mata pelajaran,  yaitu Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam, ditambah mata pelajaran bahasa Arab. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait dan saling melengkapi.[1] Akan tetapi, tentu saja mata pelajaran Al-Qur’an Hadis menjadi core inti mata pelajaran lainnya. Sebab, Al-Qur’an dan hadis Nabi merupakan sumber utama ajaran Islam. Artinya, Al-Qur’an dan hadis Nabi menjadi sumber akidah, akhlak, syari’ah atau fikih (ibadah, muamalah), bahkan sejarah dan peradaban Islam. Dengan demikian, kajian Al-Qur’an dan hadis selalu berada di setiap unsur pokok ajaran Islam tersebut.[2]

Lantas apa yang dimaksud dengan mata pelajaran Al-Qur’an Hadis yang akan menjadi bidikan utama kajian dalam makalah ini? Mata pelajaran Al-Qur’an Hadis adalah sebuah mata pelajaran di madrasah yang menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial, mata pelajaran Al-Qur’an Hadis memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.[3] Baca Lanjutannya…

Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar atau kegiatan pembelajaran bertumpu pada banyak hal, di antaranya adalah peran dan profesionalisme pendidik, kelengkapan kurikulum, kesempurnaan materi pelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana, serta antusiasme peserta didik. Ketiadaan satu faktor saja dari beberapa faktor di atas dapat menyebabkan proses pembelajaran menjadi timpang dan tidak sempurna. Dengan demikian, terpenuhinya beberapa faktor di atas menjadi sebuh keniscayaan dalam kegiatan belajar-mengajar.

Di antara beberapa faktor yang menunjang keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, materi pelajaran termasuk hal yang cukup penting. Sebab, materi pelajaran merupakan substansi yang akan diajarkan kepada peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar. Bahkan, Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa bahan pelajaran atau materi pelajaran merupakan unsur inti dalam kegiatan belajar-mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh para siswa.[1] Adapun definisi materi pelajaran adalah salah satu sumber belajar yang berisi pesan dalam bentuk konsep, prinsip, definisi, gugus isi atau konteks, data dan fakta, proses, nilai, serta kemampuan dan keterampilan. Materi pelajaran yang akan dikembangkan oleh guru mengacu pada kurikulum atau terdapat dalam silabus yang penyampaiannya disesuaikan dengan kebutuhan dan lingungan peserta didik.[2]

Baca Lanjutannya…

Adalah sudah menjadi sunatullah, bahwa manusia diciptakan dalam keragaman.[1] Bukan hanya beragam dalam bahasa, warna kulit, dan suku saja, bahkan dalam aspek agama pun, manusia memiliki begitu banyak ragam kepercayaan. Kondisi ini tentu bukan untuk dijadikan perpecahan, apalagi sampai mengarah kepada benturan secara fisik. Justeru kondisi ini diciptakan agar manusia bisa mengenal satu dengan yang lainnya, serta bisa saling menghormati dan menghargai. Bahkan kondisi ini harus menjadi spirit untuk berlomba-lomba berkarya dalam kebajikan.[2]

Tetapi, keragaman kepercayaan manusia atau agama manusia bukannya menjadi motivator bagi terselenggaranya perlombaan dalam kebajikan. Malahan  keragaman agama justeru menjadi justifikasi untuk saling membunuh dan memerangi. Padahal, salah satu fungsi agama secara sosial adalah merekat persaudaraan di antara para penganut agama yang berbeda-beda.[3] Akhirnya, agama yang suci karena ia berasal dari Tuhan serta mengajak kepada sesuatu yang murni dan luhur, malah menjadi tragedi umat manusia.[4]

Baca Lanjutannya…

Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar atau kegiatan pembelajaran bertumpu pada banyak hal. Di antaranya adalah peran dan profesionalisme pendidik, kelengkapan kurikulum, kesempurnaan materi pelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana, serta antusiasme peserta didik. Ketiadaan satu faktor saja dari beberapa faktor di atas dapat menyebabkan proses pembelajaran menjadi timpang dan tidak sempurna. Dengan demikian, terpenuhinya beberapa faktor di atas menjadi sebuh keniscayaan dalam kegiatan belajar-mengajar.

Salah satu instrumen penting yang ada dalam kegiatan belajar-mengajar adalah materi pelajaran atau bahan ajar. Boleh dikatakan, bahan ajar ini menempati urutan pertama dalam daftar instrumen pembelajaran. Tanpa guru, boleh jadi siswa dapat belajar dengan cara membaca bahan ajar. Akan tetapi, jika tidak tersedia bahan ajar yang cukup, walaupun guru sudah siap, sulit dipastikan kegiatan belajar-mengajar akan terlaksana dengan sukses. Dengan demikian, materi pelajaran atau bahan ajar perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Demikian juga dengan materi pembelajaran Al-Qur’an di madrasah.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Aat Hidayat | 12 Mei 2010

Menampilkan Wajah Sains yang Lebih Islami

Belakangan ini, perbincangan mengenai integrasi antara sains dan agama mulai ramai diwacanakan. Diskursus ini sebenarnya sudah sejak dua abad silam menyeruak di tengah-tengah pergumulan intelektual para ilmuwan. Tepatnya, ketika perkembangan ilmu-ilmu modern terasa semakin mengancam kehidupan beragama, di samping juga mengancam kehidupan kemanusiaan secara luas. Dalam tradisi berpikir di kalangan Kristen maupun dalam tradisi intelektual Islam, perbincangan ini muncul dalam bentuk wacana tentang ‘akal’ dan ‘iman.’ Lebih dekat lagi, di Indonesia, perbincangan ini semakin ramai, terutama sejak bergulirnya upaya transformasi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri).

Upaya integrasi antara sains dan agama tentu bukan pekerjaan mudah. Perlu pemahaman agama yang mendalam dan pemahaman sains yang komprehensif, di samping dibutuhkan penguasaan filsafat yang memadai. Pemahaman yang kurang tepat hanya akan menjebak umat ke dalam upaya-upaya tak produktif, bahkan kontraproduktif. Sebagai salah satu contoh adalah kecenderungan di kalangan umat Islam dewasa ini untuk sekedar mencocok-cocokan ayat al-Qur’an dengan temuan ilmiah mutakhir.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Aat Hidayat | 12 Mei 2010

Kunci Pembuka Nikmat Allah

Imam Sufyan ats-Tsauri datang menghadap Ja’far bin Muhammad dan berkata, “Berikanlah nasihat kepadaku!” Tetapi Muhammad bin Ja’far menolak.

“Aku tidak akan pergi sebelum Tuan memberi nasihat,” kata Imam Sufyan ats-Tsauri.

Akhirnya Muhammad bin Ja’far berkata:

“Hai Sufyan! Jika Allah memberikan nikmat kepadamu dan kamu mengharap nikmat itu kekal, maka banyak-banyaklah memuji dan bersyukur kepada-Nya. Karena dia berfirman, Sesungnya jika kalian bersyukur kepada-Ku, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepada kalian!

Hai Sufyan! Jika kamu merasakan keterlambatan datangnya rizki, maka perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Karena Allah berfirman, Mohon ampunlah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit dan menolong kalian dengan harta benda dan anak-anak, dan dia akan menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai.

Hai Sufyan! Jika kamu tertimpa urusan dengan penguasa atau yang lainnya, maka banyak-banyaklah kamu membaca Lâ Haula wa Lâ Quwwata illâ Billâh. Karena sesungguhnya dia adalah kunci pembuka kebahagiaan dan salah satu gudang surga.”

Sambil mendengarkan, Imam Sufyan ats-Tsauri tampak menghitung dengan menekuk-nekuk jarinya dan berkata, “Inilah tiga, dan tiada yang lebih hebat daripada tiga nasihat ini.”

Dikutip dari:

KH. M.A. Fuad Hasyim, Butir-butir Hikmah Sufi, Jilid I (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005)

Oleh: Aat Hidayat | 7 Mei 2010

Kitab Mahaasin at-Ta’wiil Karya al-Qasimi

A. Pendahuluan

Di dunia Islam, kitab yang paling banyak memproduksi makna adalah kitab Al-Qur’an. Dari kitab induk Al-Qur’an ini telah lahir beribu kitab tafsir yang memenuhi khazanah intelektual Dunia Islam. Peristiwa ini merupakan hal yang sangat wajar. Mengingat, bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang bisu. Adalah tugas kita sebagai muslim untuk menyuarakannya. Hal ini jauh-jauh hari telah diisyaratkan oleh Imam Ali bin Abi Talib. Beliau mengatakan bahwa Al-Qur’an di antara dua sampulnya tak bisa bersuara. Sang juru bicara itulah yang menyuarakannya.[1]

Dari sinilah tradisi penafsiran terhadap Al-Qur’an mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bukan hanya di dunia Islam dan dilakukan oleh muslim saja, bahkan di kalangan orientalis pun muncul beberapa ilmuwan yang mencoba mengelaborasi kandungan makna Al-Qur’an.[2]

Pada praktik selanjutnya, penafsiran terhadap Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari heterogenitas. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor internal (al-‘awaamil ad-daakhiliyyah) saja, seperti kondisi objektif teks Al-Qur’an itu sendiri yang memungkinkan untuk dibaca secara beragam, tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor eksternal (al-‘awaamil al-khaarijiyyah), seperti kondisi subjektif mufasir sendiri, dan yang terpenting, adalah faktor politik dan ideologis yang melingkupi kemunculan sebuah tafsir.[3] Bahkan, Michael Foucault menegaskan bahwa sebuah perkembangan ilmu pengetahuan, mazhab, atau pemikiran, apapun namanya (termasuk tafsir di dalamnya), tidak bisa dilepaskan dari relasi kekuasaan.[4]

Baca Lanjutannya…

Yang saya dengar, saya lupa.

Yang saya lihat, saya ingat.

Yang saya lakukan, saya paham.

(Konfusius)[1]

A. Pendahuluan

Ungkapan di atas sangat tepat untuk memantapkan pendapat Mel Silberman yang menunjukkan bahwa belajar akan lebih bermakna dan bermanfaat apabila siswa menggunakan semua alat indra, mulai dari telinga, mata, mulut, bahkan sampai hidung, sekaligus berpikir mengolah informasi, dan ditambah dengan mengerjakan sesuatu. Bahkan, Silberman menandaskan bahwa dengan hanya mendengarkan saja, kita tidak dapat mengingat sesuatu lebih banyak dan akan mudah lupa.[2]

Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar yang baik bukanlah kegiatan belajar-mengajar yang berpusat pada guru, tetapi kegiatan belajar-mengajar yang berpusat pada siswa. Inilah yang dalam istilah Melvin L. Silberman disebut active learning atau pembelajaran aktif. Selanjutnya, Melvin L. Silberman mengemukakan bahwa agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan materi yang dipelajari. Bahkan, dalam kegiatan belajar-mengajar yang aktif, siswa sering meninggalkan tempat duduk, bergerak leluasa, dan berpikir dengan keras.[3]

Baca Lanjutannya…

Oleh: Aat Hidayat | 6 Mei 2010

Pornografi Lebih Bahaya Dibanding Narkoba

Kecanduan narkoba merusak tiga bagian otak. Kecanduan pornografi merusak lima bagian.

VIVAnews – Selain narkoba, ancaman terbesar bagi anak-anak Indonesia adalah pornografi.

Untuk melawan narkoba, sudah banyak gerakan-gerakan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat, baik untuk mencegah maupun merehabilitisi para pemakainya. Tapi, untuk pornografi belum ada usaha besar untuk mengatasinya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Aat Hidayat | 6 Mei 2010

Demokrasi Indonesia di Simpang Jalan

Sejak awal berdirinya sebuah institusi yang bernama negara, tujuan utamanya adalah mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, adil, makmur, sejahtera, dan sentosa. Untuk mewujudkan tujuan ini, tentu bukan pekerjaan mudah. Bukan berhenti pada terwujudnya sebuah negara bangsa. Untuk mewujudkan semua cita-cita mulia di atas, perlu sebuah sarana yang bernama pemerintahan. Tentunya, yang dibutuhkan di sini adalah pemerintahan yang bersih, clean government. Bukan pemerintahan-lintah yang kerjanya hanya memeras potensi dan kekayaan negara dan rakyat.

Untuk mewujudkan sebuah pemerintahan yang bersih diperlukan sebuah cara. Satu-satunya prosedur yang saat sekarang masih diakui oleh negara-negara di dunia dan menjadi satu-satunya trend untuk mewujudkan clean government adalah sistem pemilu yang demokratis. Untuk saat ini, demokrasi masih dipercaya sebagai satu-satunya prosedur untuk memilih seorang pemimpin yang bersih dan bertanggungjawab.

Jika hal ini dikontekstualisasikan pada kondisi Indonesia saat ini, dimana Indonesia sedang menjalani proses demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, muncul pertanyaan: Apakah proses demokratisasi di Indonesia sudah mencapai harapan dalam menciptakan pemerintahan yang bersih? Atau justru menciptakan diktator-diktator baru yang lebih kejam?

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori