Oleh: Aat Hidayat | 23 April 2010

Al-Qur’an: Tufa yang Menyegarkan dan Meletihkan

“Seperti yang akan segera kau ketahui, seringkali kuminum sejenis minuman bernama Tufa. Rasanya yang agak pahit berasal dari akar-akaran pohon Palem Tufa yang direbus. Tufa menyegarkanku saat aku lelah—dan meletihkanku saat aku terjaga dan ingin tidur. Rasanya lezat dan benar-benar aman.”

Itulah salah satu ungkapan yang terlontar dari mulut Frode, saat bercerita kepada Tukang Roti Hans di sebuah pojok Pulau Ajaib, dalam novel Misteri Soliter karangan penulis Norwegia, Jostein Gaarder. Frode adalah seorang pelaut di sebuah kapal layar Spanyol yang terdampar di Pulau Ajaib, setelah kapalnya karam diterjang badai. Sementara Tukang Roti Hans adalah seorang tua penjual roti di sebuah kota kecil, Dorf.

Namun, penulis, di sini, tidak akan menceritakan bagaimana isi novel, yang merupakan sekuel dari novel filsafat Dunia Sophie, tersebut. Jika tertarik dengan cerita novel ini, silahkan pembaca budiman membaca novel Jostein Gaarder edisi bahasa Indonesia-nya berjudul Misteri Soliter yang diterbitkan oleh Penerbit Jalasutra. Penulis hanya ingin menggaris-bawahi sebuah minuman khas, dalam novel menarik ini, bernama Tufa.

Saat mengamati karakteristik minuman ini, benak penulis langsung tertuju kepada kitab agung penuh makna, Al-Qur’an. Coba perhatikan sekali lagi ciri-ciri minuman Tufa tersebut; menyegarkanku saat aku lelah—dan meletihkanku saat aku terjaga dan ingin tidur. Rasanya lezat dan benar-benar aman. Ciri-ciri minuman ini, menurut penulis, benar-benar mewakili karakter Al-Qur’an. Mari kita lihat satu persatu.

Menyegarkanku saat aku lelah. Minuman Tufa, ketika diminum oleh orang yang sedang kelelahan, niscaya hilang segala kelelahan, digantikan kesegaran yang memabukkan. Bagaimana dengan Al-Qur’an? Penulis, atau pembaca sekalian, mungkin pernah merasakan. Di saat kita kelelahan, karena didera oleh berbagai permasalahan hidup. Saat kita merasa capek memikul aneka macam problema. Saat kita stress dan frustasi dengan keseharian kita. Lalu kita bercumbu-mesra dengan Al-Qur’an, kita rengkuh keagungan Al-Qur’an, kita hirup aroma kesejukannya, dan kita reguk nuansa kesegarannya, maka hilanglah segala penat yang merasuki jiwa kita. Rasa penat dan capek, rasa lelah dan frustasi, tergantikan dengan kesegaran laksana berendam di telaga. Itulah Al-Qur’an, pedoman hidup kita. Di saat kita haus dan lelah, reguklah kesegaran Al-Qur’an. Niscaya hilang kelelahan, berganti kesegaran tiada tara.

Meletihkaku saat aku terjaga dan ingin tidur. Sebaliknya, ketika minum Tufa di saat kita segar-bugar, maka hilanglah kesegaran berganti keletihan yang sangat, yang menyebabkan kita teridur. Begitu juga Al-Qur’an. Di saat kita santai, dan ingin mengisi waktu santai itu dengan mendalami dan menguak kandungan makna Al-Qur’an. Di saat itu pulalah, kita merasa letih, untuk kemudian terlelap dalam kantuk yang sangat. Kenapa? Karena kandungan Al-Qur’an yang begitu mendalam. Maka, kita sulit untuk mampu menguak maknanya. Walau begitu, bukan berarti Al-Qur’an adalah kitab suci yang sulit dipahami. Tetapi, Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang membutuhkan keseriusan dalam mendalaminya, bukan hanya sekedar main-main semata. Maka, ketika kita berusaha merengkuh makna hakiki Al-Qur’an, perlahan tapi pasti, jiwa kita merasa lelah. Lalu, jiwa kita terlelap tidur dalam irama syahdu keagungan Al-Qur’an.

Terakhir, rasanya lezat dan benar-benar aman. Tidak bisa disangkal lagi, Al-Qur’an merupakan makanan ruhani yang lezat penuh gizi, selezat minuman Tufa, bahkan mungkin lebih. Barangsiapa yang menyantap kandungan Al-Qur’an, niscaya akan merasakan kelezatan deretan gizi yang tersusun di sepanjang hidangan Illahi ini. Bukan itu saja, seperti minuman Tufa juga, Al-Qur’an akan memberikan rasa aman kepada setiap insan yang berusaha merengkuhnya. Ingatlah karya tafsir seorang ulama besar Mesir, Fi Zhilal al-Qur’an. Ya, di bawah lindungan Al-Qur’an, jiwa kita merasa tentram. Terlindung dari marabahaya kehidupan yang menerjang kita.

Itulah Al-Qur’an. Sebuah kitab suci multi-fungsi. Bukan saja memberikan pencerahan bagi pembacanya. Al-Qur’an juga bisa memberikan kesegaran dari segala letih, dan memberikan perlindungan dari marabahaya yang menghadang. Jika kita berselisih-paham, atau jika kita kehilangan arah dalam mengarungi samudera kehidupan ini, atau jika kita merasa lelah, maka rengkuhlah Al-Qur’an. Niscaya kita akan mendapatkan obat, yang bukan saja menyembuhkan, tetapi juga melindungi dan memberikan ketentraman. Mari, kita mantapkan diri kita untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk, kompas hidup) dan syifa-un (obat, penyembuh derita hidup). Wallahu a’lamu. [ ]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: