Oleh: Aat Hidayat | 1 Mei 2010

Takwa Duniawi dan Takwa Ukhrawi

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

(Q.S. ath-Thalaq [65]: 2-3)

Dalam menjalani hidup di dunia ini, kita sering menghadapi musibah, cobaan dan ujian, baik berupa bencana, permasalahan hidup yang rumit, maupun berupa kenikmatan yang melimpah. Di antara kita ada yang menganggap cobaan tersebut begitu berat menghimpit jiwa, sampai-sampai menganggap Allah, sebagai pemberi cobaan, tidak adil terhadap kita. Padahal Allah tidak akan pernah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q.S. al-Baqarah [2]: 286). Lantas bagaimana seharusnya kita menghadapi setiap cobaan, ujian, musibah, dan bencana, yang setiap hari bertubi-tubi menghadapi bangsa kita tercinta ini? Apakah berdiam diri dengan dalih sabar? Ataukah dengan menggerutu menyalahkan alam, menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Allah? Ataukah dengan bergerak melakukan perbaikan?

Dalam satu riwayat diceritakan, ‘Auf bin Malik al-Asyja’i bersedih karena anaknya diculik oleh orang-orang kafir. Kemudian ia melapor kepada Rasulullah Saw. “Ya Rasulullah, musuh-musuh telah menculik anak saya, dan isteri saya sangat gelisah. Saya harus bagaimana?” Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah! Perbanyaklah kamu dan isterimu membaca Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billah sebanyak mungkin!” Kemudian ‘Auf bin Malik al-Asyja’i dan isterinya mengikuti saran Rasulullah Saw. tersebut. Ketika keduanya sedang berdzikir mengucapkan Lâ Haula wa Lâ Quwwata illâ Billâh seperti yang disarankan Rasulullah Saw., tiba-tiba anaknya datang. Tidak hanya itu, kedatangan anaknya tersebut disertai dengan seratus ekor unta. (Al-Thabari, Juz 28/90; Ali al-Shabuni, Juz 3/400).

Kisah di atas adalah asbabun nuzul (latar belakang sejarah) yang mengiringi turunnya Q.S. ath-Thalaq (65): 2-3 seperti disebut di atas. Dalam kisah di atas jelas tersirat, bahwa musibah yang diderita ‘Auf bin Malik al-Asyja’i dan isterinya, yaitu kehilangan anak tercintanya, berbuah kenikmatan yang luar biasa. Tetapi musibah yang berbuah kenikmatan tersebut (baca: sengsara membawa nikmat) tidak datang begitu saja. Kenikmatan tersebut harus dibeli dengan ketakwaan dan kesabaran. Lantas bagaimana kita memahami kisah di atas? Apakah secara jabbârî (menerima begitu saja setiap musibah yang menimpa kita dengan bersabar tanpa ada usaha), atau secara qaddârî (menerima setiap musibah dengan sabar, kemudian berikhtiar mencari solusi terbaik)?

Dalam Q.S. ath-Thalaq (65): 2-3 dinyatakan, bahwa orang yang bertakwa kepada Allah akan mendapatkan dua keuntungan. Pertama, Allah akan memberikan baginya jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi. Kedua, Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ketika menjelaskan makna takwa, M. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa takwa memiliki dua sisi. Pertama, sisi duniawi, yang memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan sunnatullâh (hukum alam). Kedua, sisi ukhrawi, yang memperhatikan dan melaksanakan hukum syari’at. (M. Quraish Shihab, 1999: 127). Dari dua makna takwa ini, banyak orang yang lebih mementingkan sisi ukhrawi. Mereka beranggapan, bahwa takwa cukup dengan melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya (imtitsâlu awâmirillâh wa ijtinâbu nawâhîh). Padahal sisi takwa yang kedua itulah yang lebih penting, yaitu gerak (transformasi) mengikuti hukum-hukum alam seperti yang telah ditetapkan Allah, dengan melakukan perbaikan.

Di tengah hiruk-pikuknya keadaan negeri kita tercinta Indonesia; mulai dari bencana tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, wabah penyakit, sampai merajalelanya para koruptor, apa yang mesti kita lakukan? Dengan cara bertakwa seperti yang dilakukan ‘Auf bin Malik al-Asyja’i dan isterinya ketika kehilangan anak tercintanya? Ya, apa yang mereka lakukan memang sangat baik. Kita sebagai umat Islam memang harus selalu menyerahkan urusan kita kepada Allah, dengan berdzikir, berdoa, dan bertawakal. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang banyak ber-istighfar, Allah akan menjadikan baginya dari setiap keraguan, kelapangan; dari setiap kesempitan, jalan keluar; dan Allah melimpahkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Katsir, Juz 4/351). Tetapi wujud ketakwaan yang bersifat ukhrawi tersebut harus disertai pula dengan wujud ketakwaan yang bersifat duniawi.

Bagaimana wujud takwa duniawi tersebut? Wujud takwa duniawi adalah dengan melakukan gerak-transformasi sosial, melakukan perubahan sesuai dengan perintah dan aturan yang telah ditetapkan Allah. Misalnya, bagaimana mungkin gurita korupsi di negeri kita akan berhenti kalau kita hanya sebatas berdzikir dan berdoa supaya para koruptor segera sadar. Tetapi, kita harus mulai bergerak memberantas korupsi; dengan menegakkan hukum seadil-adilnya, melakukan penyadaran tentang bahayanya korupsi bagi kehidupan masyarakat, atau dengan menerapkan hukum mati bagi koruptor jika memungkinkan. M. Amien Rais pernah menegaskan, bahwa kita harus selalu mengasah takwa kita dalam kehidupan pribadi, keluarga, sosial-kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara. (M. Amien Rais, 1998: 52). Artinya, takwa kita jangan hanya berhenti di masjid, tetapi harus merembes dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan kita.

Dari takwa yang bersifat individual berupa dzikir, doa, dan ibadah kita kepada Allah; kemudian berlanjut pada takwa yang bersifat sosial berupa gerak perubahan sosial yang kita lakukan sesuai aturan dan hukum sunnatullâh; maka sudah saatnya kita bertawakal, menyerahkan segala doa dan ikhtiar kita pada Allah, karena Dia-lah yang mengatur dan menentukan segalanya. Manusia hanya bisa merencanakan, Allah-lah yang menentukan. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Ali Imran (3): 159, Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Jika dua sisi takwa tersebut sudah bisa disatu-padukan, takwa duniawi dan takwa ukhrawi, yang disertai dengan sikap tawakal kepada Allah, maka kedamaian tidak hanya bisa dirasakan di masjid-masjid tempat berkumandangnya dzikir dan doa. Kedamaian juga akan bisa kita nikmati di setiap jengkal kehidupan; kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara. Kedamaian yang akan kita rasakan tersebut seperti yang dianugerahkan kepada kaum Saba’. Mereka dianugerahi sebuah negeri yang baik dan Tuhan mereka adalah Tuhan yang Maha Pengampun (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr). (Saba’ [34]: 15).

Sudah saatnya merubah cara pandang kita terhadap makna takwa. Takwa tidak hanya cukup dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dengan melakukan shalat yang khusyuk, dzikir dan doa yang panjang serta mengharu-biru penuh tetesan air mata. Tetapi takwa harus mengejawantah dan mewujud dalam bentuk reformasi sosial mewujudkan keadilan di muka bumi ini. Orang yang bertakwa tidak hanya duduk bersila di masjid sambil berdzikir khusyuk dan memanjatkan doa panjang yang disertai tetesan air mata. Pada posisi ini, kita melaksanakan tugas untuk beribadah. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. adz-Dzariyat [51]: 56). Orang yang bertakwa juga harus mampu melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi, yang bertugas memakmurkan bumi. Pada posisi ini, kita melaksanakan tugas sebagai khalifah. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30). Semakin banyak orang yang bertakwa, maka bumi akan semakin damai dihiasi cahaya Allah! Semoga. [ ]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: