Oleh: Aat Hidayat | 12 Mei 2010

Menampilkan Wajah Sains yang Lebih Islami

Belakangan ini, perbincangan mengenai integrasi antara sains dan agama mulai ramai diwacanakan. Diskursus ini sebenarnya sudah sejak dua abad silam menyeruak di tengah-tengah pergumulan intelektual para ilmuwan. Tepatnya, ketika perkembangan ilmu-ilmu modern terasa semakin mengancam kehidupan beragama, di samping juga mengancam kehidupan kemanusiaan secara luas. Dalam tradisi berpikir di kalangan Kristen maupun dalam tradisi intelektual Islam, perbincangan ini muncul dalam bentuk wacana tentang ‘akal’ dan ‘iman.’ Lebih dekat lagi, di Indonesia, perbincangan ini semakin ramai, terutama sejak bergulirnya upaya transformasi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri).

Upaya integrasi antara sains dan agama tentu bukan pekerjaan mudah. Perlu pemahaman agama yang mendalam dan pemahaman sains yang komprehensif, di samping dibutuhkan penguasaan filsafat yang memadai. Pemahaman yang kurang tepat hanya akan menjebak umat ke dalam upaya-upaya tak produktif, bahkan kontraproduktif. Sebagai salah satu contoh adalah kecenderungan di kalangan umat Islam dewasa ini untuk sekedar mencocok-cocokan ayat al-Qur’an dengan temuan ilmiah mutakhir.

Di tengah kebuntuan di atas, Mehdi Golshani, seorang fisikawan sekaligus pengkaji filsafat sains asal Iran, mencoba memberikan tawaran segar. Berbekal otoritas dan kredibilitas yang memadai dalam wacana filsafat sains dan wacana agama, Golshani mencoba menghadirkan wacana tentang agama dan sains yang konstruktif dan produktif.

Secara umum, Golshani ingin mengatakan bahwa sains itu sarat dengan nilai. Ini merupakan tanggapan untuk sebagian kalangan yang mengatakan bahwa sains bebas nilai, dengan dalil populernya the man behind the gun. Menurut Golshani, pada tingkat asumsi-asumsi dasar yang menjadi pondasi pengembangan sains, sains itu sarat dengan nilai.

Dengan pandangan seperti ini, Golshani ingin menawarkan sains islami sebagai sains yang berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam. Golshani tidak hendak meleburkan sains dan agama secara gampangan dan ceroboh. Juga tidak hendak menciptakan teori-teori ilmiah yang lebih islami, seperti teori gerak Newton versi Islam. Beliau, dengan sains islami, hanya ingin memberikan kerangka metafisis dan filosofis yang lebih islami atas sains yang berkembang dewasa ini. Sehingga dalam kegiatan ilmiahnya, sains modern akan lebih memperhatikan nilai-nilai moral dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan, untuk kemudian akan sampai pada Realitas Mutlak, Pencipta alam semesta.

Anatomi buku kedua Guru Besar Fisika Universitas Teknologi Syarif Iran ini dibagi ke dalam enam bagian. Secara urut, Golshani ingin berbicara tentang hubungan Islam dan ilmu-ilmu kealaman, pemahaman alam dalam perspektif al-Qur’an, relevansi sains islami, hubungan antara Islam, sains, dan masyarakat, isu etika dalam sains dan teknologi, serta apakah sains bisa membuktikan realitas transenden.

Pada bab pertama, Golshani ingin memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengapa aktivitas ilmiah tidak bisa membawa ilmuwan mendekat kepada Tuhan? Beliau menjelaskan, bahwa aktivitas ilmiah akan membawa kepada pemahaman tentang Tuhan hanya jika seorang ilmuwan membekali dirinya terlebih dahulu dengan keimanan. Sains dapat membawa kepada Tuhan jika kerangka metasfisisnya memadai dan dilandasi dasar-dasar agama yang tidak sekuler.

Pandangan di atas lebih dipertegas dalam bab selanjutnya. Menurutnya, untuk mengetahui alam tidak hanya dibutuhkan indera lahiriah dan akal saja. menurut beliau dibutuhkan juga peran wahyu (dalam hal ini agama) sebagai pondasi metafisis dalam meneliti alam. Tentang peran akal dalam kegiatan ilmiah, Golshani mensyaratkan akal yang bersih dan tidak dikotori oleh kejahatan.

Dalam bab ketiga, Golshani mencoba menawarkan ‘sains islami’ yang berbeda dengan beberapa pemikir muslim lain. Gagasan sains islami Golshani lebih tepat disebut sebagai ‘penafsiran islami atas sains.’ Dengan kata lain, Golshani ingin menawarkan sains yang berkerangka pada pandangan-dunia Islam. Jika kerja ilmiah dilakukan dalam kerangka teistik tersebut, hasil praktisnya diharapkan akan lebih menjamin kebahagiaaan dan kesejahteraan manusia. Dalam buku ini, Golshani ingin menghindari makna ‘sains islami’ yang mengimplikasikan penggantian prosedur ilmiah yang sudah baku dan perujukan riset-riset ilmiah kepada al-Qur’an.

Pada dua bab selanjutnya, Golshani membahas nilai-nilai etika dalam penerapan sains. Golshani menilai, di samping peran positifnya yang besar, sains modern juga menjadi sebab bagi eksploitasi alam yang berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan alam. Kemudian, Golshani menawarkan gagasan-gagasan dasar perumusan etika islami yang dapat menyumbangkan pemecahan terhadap masalah ini. Di antaranya adalah memasukkan peran spiritual keagamaan dan moral kemanusiaan dalam kegiatan ilmiah.

Dalam bab terakhir, Golshani mengajak para ilmuwan untuk tidak mengabaikan adanya realitas transenden ketika melakukan kegiatan ilmiah. Menurutnya, kajian ilmiah terhadap alam bisa memperkuat iman manusia kepada Tuhan. Tentunya dengan satu syarat, sains diletakkan dalam kerangka metafisis yang lebih islami.

Di tengah kajian integrasi sains dan agama dewasa ini, buku ini menjadi sangat penting. Di samping ajakan-ajakannya untuk menata wajah sains agar lebih memperhatikan nilai-nilai alam dan nilai-nilai kemanusiaan. Juga, secara cerdas, buku ini menawarkan kerangka islami terhadap sains, agar dalam perkembangannya sains bisa memberikan kehidupan yang lebih manusiawi dan bermoral. Sehingga perkembangan sains dewasa ini, yang cenderung mengarah kepada kehancuran kemanusiaan, dapat segera dihentikan. Selanjutnya diganti dengan sains yang lebih menghormati nilai-nilai kemanusiaan. [ ]

Judul buku: Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, Tafsir Islami atas Sains

Penulis: Mehdi Golshani

Penerjemah: Ahsin Muhammad

Penerbit: Mizan, Bandung, Cetakan I, Juli 2004

Jumlah halaman: 149 hlm. + xxiii


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: